Gresik Satu
Banner

PSSI Dosa Besar Lockdown Sepakbola 1 TAHUN

GRES1.ID – Kompetisi sepakbola Indonesia tak hanya berhenti total sejak Maret 2020. Tapi juga mengusung berbagai problema kehidupan pilu bagi ribuan para pelaku dan jutaan suporternya.

PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) sebagai penanggung jawab dan regulator benar-benar tak berdaya. Tidak bermanuver. Tidak berjuang sekeras-kerasnya melobi Kapolri dan Presiden RI untuk segera memutar kembali kompetisi. Katakanlah dimulai dulu dari Kompetisi 18 Klub Liga1.

PSSI baru berani memulai, katanya, Februari – Juli 2021. Tapi janji ini belum meyakinkan. Mengapa Pengurus Pusat PSSI kehilangan nyali? Tega membiarkan klub-klub merana. Para pemain gundah gulana diterpa kemiskinan. Para wasit sertifkat AFC pun terpaksa ngamen di pertandingan Tarkam  (Antarkampung).

(BACA: JERIT TANGIS PEMAIN SIAPA YANG PEDULI?)

PSSI telah membuat dosa besar! Penulis memilih kata dosa besar. Bukan pelanggaran hukum yang harus ada sanksinya. Sebab, roh PSSI adalah kompetisi. Tanpa kompetisi buat apa didirikan PSSI, AFF, AFC dan FIFA?

Padahal, kompetisi sepakbola di berbagai benua sudah berjalan kembali sejak Agustus atau September 2020. 

Mungkin PSSI berdalih kompetisi terpaksa dihentikan lama karena dunia tengah disandera Covid-19. Tapi mengapa MLS (Major League Soccer) Amerika Serikat (AS) tetap berjalan kompetisinya? Padahal jumlah pasien yang terpapar Covid-19 di AS adalah yang terdahsyat di muka bumi ini.

Sampai Sabtu 5 Desember 2020, jumlah yang positif Covid-19 di AS mencapai 14.983.425 orang. Yang meninggal dunia 287.825 orang. Yang masih dirawat 5.907.862 orang.

Bandingkan dengan Indonesia. Yang positif Covid-19 sampai 5 Desember 2020 sebanyak 569.707 orang. Yang meninggal dunia 17.589 orang, dan yang masih dirawat 81.669 orang.

Di Prancis jumlah total yang positif Covid-19 sebanyak 2.281.475 orang, di Inggris 1.705.971 orang sampai 5 Desember 2020. Tapi kompetisi tetap berjalan di sana. Sempat berhenti sekitar 3 – 4 bulan.Tapi sudah dimulai lagi Agustus atau September 2020.

Ini contoh konkret!

Lihatlah MLS Amerika Serikat. Kompetisinya berjalan lagi sejak 11 September 2020. Kemudian 30 November 2020 memasuki semifinal conference. Pada 4 Desember dilangsungkan laga Sporting KC versus Minnesota yang berakhir 0-3 untuk kemenangan tim tamu.

Senin dinihari 7 Desember berlangsung laga Columbus versus New England.

AS tak hanya paling mengerikan ancaman Covid-nya. Tapi juga mengalami proses rangkaian demonstrasi hebat berkepanjangan anti rasialisme dan pemilihan Presiden AS 2021-2025. Tapi kompetisi sepakbola must go on. 

DITUDING PENAKUT

Wartawan senior sepakbola di Jakarta, Erwiyantoro, menuliskan di facebook lewat akunnya Cocomeo Cacamarica sangat tajam dan keras.

Inilah sebagian kutipan tulisannya:

Sepak bola nasional, masuk babak baru. Menurut mBah Coco, kategorinya sudah masuk babak yang super krusial. Bisa – bisa terjadi perpecahan dahsyat di dalam lingkungan EXCO PSSI. Maklum, yang sudah mangkel di ubun-ubun, terhadap sepak terjang kepemimpinan Iwan Bule (Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan, Red), nggak cuman komunitas bola. Melainkan, wakilnya dan anggota EXCO lainnya.

Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan. (FOTO: inilahkoran.com)

Alkisah, Jumat 23 Oktober 2020, di Gedung BPK, lantai 18, kawasan Slipi Jakarta, dari CCTV mBah Coco terdengar suara dengan lantang yang seolah-olah dendam kusumat, ketika Achsanul Qosasih telepon-teleponya (teleponan,R ed) dengan Iwan Budianto, wakil Ketua Umum PSSI, sekaligus pengelola Arema FC.

Awalnya Achsanul Qosasi, yang juga pemilik Madura United, telepon. Namun, nggak diangkat Iwan Budianto. Nggak sampai lima menit, IB demikian panggilan Iwan Budianto, telepon balik. “Siap boss, ada perintah,” demikian suara di seberang sana, kepada Achsanul.

Achsanul Qosasi (tengah), Presiden Klub Madura United. (FOTO: bola.com)

“Kenapa Iwan Bule, tak punya keberanian, saat virtual dengan Jokowi,” tanya Achsanul. Padahal, seminggu sebelumnya, Sekneg Pratikno datang ke Gedung BPK, untuk diskusikan taktik dan strategi. Agar saat virtual nantinya (sedang dijadwal), Iwan Bule, keluar dari mulutnya, untuk minta tolong kepada Jokowi, bisa menggelar Liga 1 Indonesia 2020, yang tidak dapat ijin dari lembaga Kepolisian Republik Indonesia.

Alasan Pratikno menghampiri Achsanul, karena dari lingkungan Istana Negara, Jokowi sudah gerah, saat di bully. Pasalnya, suara-suara yang masuk ke Jokowi, kalau Pilkada diperbolehkan, karena ada anaknya Gibran Rakabuming Raka, dan mantunya Bobby Afif Nasution ikutan maju sebagai walikota Solo dan Medan. Sedangkan, Jokowi seolah-olah tidak peduli, apakah Liga 1 dan 2 digulirkan atau tidak?

Iwan Budianto, Wakil Ketua Umum PSSI. (FOTO: indosport.com)

“Iwan Bule itu ......, dan penakut,” kata-kata itu diulang tiga kali oleh Iwan Budianto, dibalik handphonenya, kepada Achsanul Qosasi.

***

Mayoritas pecinta sepakbola sebenarnya berharap banyak kepada Ketua Umum PSSI yang jenderal Polri bintang dua itu. Beliau terpilih sebagai ketua umum pada 2 November 2019. Beliau memperoleh 82 suara dari 85 total suara dalam Kongres Luar Biasa PSSI di Hotel Shangri La Jakarta. Masa jabatan 4 tahun sampai 2023. 

Karena beliau jenderal Polri, tentu akan lebih mudah melobi Kapolri. Bicara dari hati ke hati. Paling tidak akan ketemu solusi terbaik, dan kompetisi segera berjalan kembali.

Tapi kenyataannya, jauh dari harapan 100 juta lebih rakyat sepakbola Indonesia. Mungkin beliau lupa bahwa sekarang beliau sudah menjadi presidennya sepakbola Indonesia. Koq masih ewuh pakewuh dengan Kapolri Jenderal Pol Drs Idham Azis, M.Si?

Orang awam sangat sulit bisa menerima kenyataan ini.

Sementara itu kompetisi di negara tetangga terus berjalan dengan menerapkan ketat protokol kesehatan. Tanpa penonton.

Filipina pun tetap menggulirkan liganya dengan penyesuaian kompetisi yang sangat ekstrem. 

Dihentikan sejak Maret, liga mereka kembali digulirkan per 29 Oktober lalu dengan format liga menjadi home tournament (di National Training Center, Manila) dan setiap tim hanya bertemu satu kali. Berakhir pada 12 November, liga hanya berlangsung selama dua pekan. 

Liga Filipina yang biasanya hanya diikuti oleh 7 tim, kali ini hanya diikuti 6 tim. Green Archers United, Philippine Air Force, dan Global FC memilih mundur karena diterpa krisis finansial. Sebagai gantinya tim yang baru dibentuk pada 2019, Maharlika Manila FC, dan skuad Timnas Filipina U22 asuhan Scott Cooper, ikut kompetisi. Kompetisi jalan terus. (Tulisan Ardy Murhadi Shufi di panditfootball.com  4 November 2020, judul: Liga Tetangga Bisa Lanjut, Kok Kita Enggak?)

Mengapa PSSI baru berani memutar Februari 2021. Ini kalau jadi lho. Setahun vakum kompetisi. Sangat memprihatinkan!

PSSI seolah tak mendengarkan jerit tangis para pemain, pelatih, wasit dan pengurus klub. Ada yang sampai menjual bangunan dan mobilnya untuk bertahan hidup. 

Klub Madura United misalnya harus menggaji pemain dan pelatih Rp 500 juta per bulan. Itu belum untuk kepentingan lainnya. 

Kalau rata-rata klub Liga 1 harus mengeluarkan dana Rp 500 juta perbulan – ketika kompetisi mandeg jegreg mboh kapan mulai maneh – maka 18 klub per bulan harus mengeluarkan dana Rp 9 miliar. Setahun Rp 108 miliar!! Tanpa kompetisi!!! 

Belum lagi mengurus perpanjangan kontrak pemain Desember 2020 atau Januari 2021 ini. 

Di mana perjuangan hebat PSSI kita? Di mana? Sepakbola Indonesia bak ayam kehilangan induknya. Ya, Allah. (S5)

Apa Reaksi Anda?